Friday, June 21, 2013

Soekarno habiskan malam bersama Monroe?

Soekarno habiskan malam bersama Monroe?


Soekarno habiskan malam bersama Monroe?
soekarno-marilyn-2. merdeka.com/istimewa

Pertemuan antara Soekarno dan Marilyn Monroe dalam pesta itu telah menjadi isu di kalangan pejabat elite AS. Bagaimana tidak, Soekarno dikenal sebagai seorang 'penggemar' wanita, sementara bintang Hollywood itu merupakan sang penggoda ulung.

Tak banyak yang tahu apa yang dibicarakan Bung Karno dan Monroe dalam perjamuan di Beverly Hills Hotel akhir Mei 1956 itu. Meski demikian, rumor tentang apa yang terjadi setelah pertemuan itu tetap saja santer.

Dalam Celebrity Secrets: Official Government Files on the Rich and Famous, Anthony Summers, seorang yang mempunyai otoritas menulis tentang Monroe, menyatakan, "Selama syuting Bus Stop, 1956, Marilyn bertemu dengan Presiden Indonesia, Achmed Sukarno.... Dia ingin memberitahu temannya Robert Slatzer bahwa ia dan Soekarno telah 'menghabiskan malam bersama'."

Dalam buku yang mengklaim berbasis data FBI itu, Summers mengungkapkan apapun yang terjadi pada pertemuan itu tidak ada yang berlalu tanpa diketahui oleh CIA, agen rahasia AS.

"Dalam tahun-tahun itu, Indonesia menjulang sebagaimana Vietnam dalam pantauan Washington sebagai prioritas di Asia," demikian tulis buku kara Nick Redfern dan Nicholas Redfern itu.

Buku ini juga mengungkapkan, pada 1957 dan 1958 sebuah rekaman menunjukkan CIA terlibat pada semua jenis kejahatan untuk mendongkel Soekarno, "Yang dipandang bertanggung jawab mengarahkan negaranya pada komunisme."

Meski demikian, masih menurut buku itu, ketika AS merasa butuh untuk menjilat Soekarno, CIA bermimpi untuk menggunakan seks dalam bentuk Marilyn Monroe. "Agar sang diktator merasa dihormati."

Menurut Joseph Smith, mantan pejabat CIA di Asia, dikutip dari buku Goddess: The Secret Lives of Marilyn Monroe karangan Anthony Summer, ada pertemuan lanjutan antara Soekarno dan Monroe setelah malam itu.

"Ada upaya untuk membuat Soekarno terus bersama Monroe. Pertengahan 1958, saya mendengar ada rencana untuk membawa mereka bersama ke ranjang," ujar Joseph Smith di buku itu.

Soal kebenaran pernyataan Smith itu, sampai sekarang masih jadi misteri. Begitu juga soal kebenaran informasi Monroe dekat atau merupakan agen CIA.
Sumber :http://www.merdeka.com/peristiwa/soekarno-habiskan-malam-bersama-monroe.html

Wednesday, June 19, 2013

Pose manja Marilyn Monroe dengan Bung Karno

Pose manja Marilyn Monroe dengan Bung Karno


Pose manja Marilyn Monroe dengan Bung Karno
soekarno-marilyn-2. merdeka.com/istimewa

Tidak banyak yang tahu apa yang dibicarakan Soekarno dan Marilyn Monroe saat pesta itu. Namun yang jelas, pertemuan keduanya dalam pesta di Beverly Hills Hotel akhir Mei 1956, diabadikan dalam sebuah foto.

Gambar hitam putih itu merekam bagaimana Soekarno sedang berbicara kepada Monroe. Keduanya sama-sama menunduk. Namun, Monroe yang mengenakan gaun itu agak mendekatkan telinganya ke arah Bung Karno.

Pesta yang terlalu berisik barangkali membuat Soekarno dan Monroe begitu dekat malam itu. Namun namanya foto, ia hanya membekukan si blonde yang berpose manja kepada sang proklamator.

"Soekarno mengekspresikan keinginannya untuk bertemu Nona Monroe, salah satu aktris favorit di negaranya," demikian caption asli foto tersebut.

Pertemuan Soekarno dan Marilyn tak mungkin terjadi tanpa jasa Joshua Logan, sutradara film Bus Stop. Saat itu Marilyn tengah sibuk syuting film tersebut bersama Logan.

Bos Motion Picture Producers Association kala itu, Eric Johnston mengadakan pesta di Beverly Hills Hotel, Hollywood untuk menyambut kunjungan Bung Karno. Sebetulnya, Marilyn tak diundang ke pesta itu. Namun, usai syuting Bus Stop hari itu, Logan mengajak Marilyn.

Karena yang meminta sutradaranya, Marilyn menurut, meski esok harinya dia akan berulang tahun ke-30. Bintang film 'The Seven Year Itch' yang terkenal dengan pose rok tersibak ini memang lahir 1 Juni 1926 atau tepat 86 tahun lalu.

Bagaimana kelanjutan kisah Monroe dan Bung Karno setelah pertemuan itu tidak banyak yang tahu. Tetapi menurut Joseph Smith, mantan pejabat CIA di Asia, dikutip dari buku Goddess: The Secret Lives of Marilyn Monroe karangan Anthony Summer, ada pertemuan lanjutan setelah itu.

"Ada upaya untuk membuat Soekarno terus bersama Monroe. Pertengahan 1958, saya mendengar ada rencana untuk membawa mereka bersama ke ranjang," ujar Joseph Smith di buku itu. Soal kebenaran pernyataan Smith itu, sampai sekarang masih jadi misteri.
Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/pose-manja-marilyn-monroe-dengan-bung-karno.html

5 Hal yang dibenci Soekarno dari anak gaul 60an

5 Hal yang dibenci Soekarno dari anak gaul 60an


5 Hal yang dibenci Soekarno dari anak gaul 60an
Soekarno. ©2012 Merdeka.com/dok

Gaya anak gaul di Indonesia berubah-ubah. Tahun 2012 adalah era anak alay dengan bahasa seperti semungudh untuk semangat, qmuh untuk kamu, akooo untuk aku. Maacih untuk makasih, daboweh untuk tidak boleh dan banyak lagi.

Tentu gaya bahasa dan ciri-ciri anak gaul berbeda pada setiap masanya. Tahun 1960an, ada anak gaul era flowers generations. Presiden Soekarno membenci anak gaul kala itu.

Tentunya bukan tanpa alasan Soekarno membenci mereka. Saat masa Demokrasi Terpimpin,Soekarno menentang semua hal-hal yang berbau kebarat-baratan. Barat dianggap imperialis.

Karena itu pula Soekarno tak menyukai gaya pemuda dan pemudi yang kebarat-baratan. Soekarnoingin pemuda Indonesia yang kuat dan berjiwa revolusioner.

"Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia," kata Soekarno.

Berikut ini hal-hal yang tak disukai Soekarno dari para anak gaul tahun 1960an.
Sumber :http://www.merdeka.com/peristiwa/5-hal-yang-dibenci-soekarno-dari-anak-gaul-60an.html

Soekarno dan legenda petani muda bernama Marhaen

Soekarno dan legenda petani muda bernama Marhaen


Soekarno dan legenda petani muda bernama Marhaen
Soekarno. ©2012 Merdeka.com/dok

Ketua Umum PDI Perjuangan memberikan penghargaan untuk cucu Marhaen dalam HUT PDI Perjuangan ke-40 di Waduk Jatiluhur, Jawa Barat. Nama Marhaen menjadi legenda dalam sejarah politik Indonesia. Soekarno menciptakan suatu ideologi bernama Marhaenisme.
Padahal Marhaen hanya seorang petani sederhana yang ditemui Soekarno secara tidak sengaja.Soekarno menemukan seorang petani berbaju lusuh yang sedang bekerja di sawah tahun 1920an di Bandung. Hal ini dikisahkan dalam buku Biografi Soekarno yang ditulis Cindy Adams.
Saat itu Soekarno bolos kuliah dan berkeliling Bandung dengan sepedanya. Di sebuah sawah dengan luas kurang dari sepertiga hektar, seorang petani sibuk bekerja. Soekarno kemudian menyapa petani itu.
"Siapa pemilik sawah ini?" tanya Soekarno.
"Saya juragan. Ini tanah turun temurun. Diwariskan dari orangtua," jawab petani itu.
Lalu bajak dan cangkul itu, apa punyamu?
"Iya, gan."
Lalu hasilnya untuk siapa?
"Untuk saya gan, hasilnya hanya cukup untuk hidup sehari-hari," kata petani itu.
"Kemudian aku menanyakan nama petani muda itu. Dia menyebut namanya, Marhaen. Marhaen adalah nama umum seperti Smith dan Jones. Di saat itu cahaya ilham melintas di otakku. Aku akan memakai nama itu untuk menamai semua orang Indonesia yang bernasib malang seperti dia. Semenjak saat itu kunamakan rakyatku, Marhaen," kata Soekarno.
Para petani berusaha di atas tanah yang sangat kecil. mereka korban feodalisme, diperas para bangsawan selama berabad-abad. Rakyat dipaksa mengikuti pola ekonomi imperialisme dimana hanya bisa memenuhi kebutuhannya sekadar untuk makan.
"Seorang Marhaen adalah orang yang memiliki alat-alat yang sedikit, orang kecil dengan milik kecil, dengan alat-alat kecil, sekadar cukup untuk dirinya sendiri. Bangsa kita yang puluhan juta jiwa, yang sudah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerja untuk dia. Tidak ada pengisapan tenaga seorang oleh orang lain. Marhaenisme adalah Sosialisme Indonesia dalam praktik," kata Soekarno.
"Perkataan Marhaenisme adalah lambang dari penemuan kembali kepribadian nasional kami," kataSoekarno lantang.
Sumber : http://www.merdeka.com/politik/soekarno-dan-legenda-petani-muda-bernama-marhaen.html

Mimpi Soekarno pindahkan ibu kota ke Palangkaraya

Mimpi Soekarno pindahkan ibu kota ke Palangkaraya


Mimpi Soekarno pindahkan ibu kota ke Palangkaraya
Soekarno. ©2012 Merdeka.com/dok

Jakarta sebagai ibu kota negara kini sudah tidak ideal lagi. Kota ini menyimpan segudang masalah. Mulai dari kemacetan akut, kepadatan penduduk, pembangunan tak terencana hingga banjir yang selalu mengintai jika musim hujan datang.

Presiden Soekarno pada tahun 1950-an sudah meramalkan Jakarta akan tumbuh tak terkendali.Soekarno dulu punya mimpi memindahkan ibu kota Republik Indonesia dari Jakarta ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Mengapa Palangkaraya? Ada beberapa pertimbangan Soekarno. Pertama Kalimantan adalah pulau terbesar di Indonesia dan letaknya di tengah-tengah gugus pulau Indonesia. Kedua menghilangkan sentralistik Jawa.

Selain itu, pembangunan di Jakarta dan Jawa adalah konsep peninggalan Belanda. Soekarno ingin membangun sebuah ibu kota dengan konsepnya sendiri. Bukan peninggalan penjajah, tapi sesuatu yang orisinil.

"Jadikanlah Kota Palangkaraya sebagai modal dan model," ujar Soekarno saat pertama kali menancapkan tonggak pembangunan kota ini 17 Juli 1957.

Satu hal lagi, seperti Jakarta yang punya Ciliwung, Palangkaraya juga punya sungai Kahayan.Soekarno ingin memadukan konsep transportasi sungai dan jalan raya, seperti di negara-negara lain.

Soekarno juga ingin Kahayan secantik sungai-sungai di Eropa. Di mana warga dapat bersantai dan menikmati keindahan kota yang dialiri sungai.

"Janganlah membangun bangunan di sepanjang tepi Sungai Kahayan. Lahan di sepanjang tepi sungai tersebut, hendaknya diperuntukkan bagi taman sehingga pada malam yang terlihat hanyalah kerlap-kerlip lampu indah pada saat orang melewati sungai tersebut," kata Soekarno.

Untuk mewujudkan ide itu Soekarno bekerjasama dengan Uni Soviet. Para insinyur dari Rusia pun didatangkan untuk membangun jalan raya di lahan gambut. Pembangunan ini berjalan dengan baik.

Tapi seiring dengan terpuruknya perekonomian Indonesia di awal 60an, pembangunan Palangkaraya terhambat. Puncaknya pasca 1965, Soekarno dilengserkan. Soeharto tak ingin melanjutkan rencana pemindahan ibukota ke Kalimantan. Jawa kembali jadi sentral semua segi kehidupan.

Kini Jakarta makin semrawut, sementara pembangunan di Palangkaraya berjalan lambat. Hampir tak ada tanda kota ini pernah akan menjadi ibukota RI yang megah.

Hanya sebuah monumen berdiri menjadi pengingat Soekarno pernah punya mimpi besar memindahkan ibukota ke Palangkaraya.
Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/mimpi-soekarno-pindahkan-ibu-kota-ke-palangkaraya.html

Zaman Soekarno keras pada Israel, kini politisi malah sowan

Zaman Soekarno keras pada Israel, kini politisi malah sowan


Zaman Soekarno keras pada Israel, kini politisi malah sowan


Soekarno. ©2012 Merdeka.com/dok

Nama Tantowi Yahya belakangan ramai menjadi pemberitaan media. Wasekjen Partai Golkar itu diketahui melakukan kunjungan ke Israel beberapa waktu lalu.

Di negeri zionis itu, Tantowi mengaku dijamu oleh petinggi-petinggi negara Israel. Baik dari kalangan parlemen, pemerintah ataupun kampus di wilayah Yahudi.

Hal itu sontak menimbulkan pro dan kontra dari berbagai kalangan masyarakat. Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera misalnya. Anggota Komisi I DPR bidang pertahanan dan luar negeri itu menyesalkan kunjungan Tantowi ke Israel.

Menurutnya, tindakan itu bertentangan dengan konstitusi negara. Sebab, hubungan dalam bentuk apapun dengan Israel, merupakan sebuah pelanggaran konstitusi, karena Indonesia menentang penjajahan.

"Kita menyesalkan dan tetap mengingatkan bahwa hubungan diplomatik dalam bentuk apapun dengan Israel bertentangan dengan ruh konstitusi kita, yang tegas menentang penjajahan," jelas Mardani dalam pesan singkat, Rabu (12/6).

Nama negeri zionis Israel sebenarnya tak asing di telinga rakyat Indonesia. Sejak zaman PresidenSoekarno , Indonesia kukuh menolak mengakui keberadaan Israel sebagai suatu negara.

Sebab, negeri Bani Israil itu menjajah tanah rakyat Palestina. Hal itu tentu tak sesuai dengan pembukaan UUD 1945 yang menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi.

Meski segala bentuk rayu dilakukan Israel terhadap Indonesia, Bung Karno dan wakilnya Moh Hatta tak goyang atas pendiriannya. Salah satu contohnya adalah rencana Israel memberi pengakuan kedaulatan penuh kepada Indonesia pada 1950.

Saat itu, Bung Hatta hanya menjawab telegram dari Menteri Luar Negeri Israel Moshe Sharett itu dengan ucapan terimakasih. Bung Hatta tidak menerima pengakuan kedaulatan dari Israel.

Bahkan, rencana Israel untuk mengirim misi perdamaian ke Indonesia ditolak mentah-mentah oleh proklamator kemerdekaan RI itu. Penolakan itu disampaikan Hatta dalam sebuah surat balasan yang dikirimkannya kepada Sharett pada Mei 1950.

Sikap keras juga ditunjukan oleh Bung Karno terhadap Israel. Bung Karno dengan tegas menyebut Israel sebagai penjajah. Bung Karno dengan tegas mendukung perjuangan bangsa Palestina untuk merebut tanah airnya dari penguasaan negeri Bintang Daud itu.

"Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel," kata Bung Karno dalam pidatonya pada 1962 silam.

Tak hanya itu, Bung Karno bahkan dengan lantang menentang kepesertaan Israel dan Taiwan di Asian Games. Hal itu ditunjukan Bung Karno dengan tidak mengundang Israel dan Taiwan di Asian Games tahun 1962 yang berlangsung di Jakarta.

Atas sikap tegas Bung Karno itu, Komite Olimpiade Internasional (KOI) kemudian mencabut sementara keanggotaan Indonesia dalam organisasi tersebut. Tak kalah galak, Bung Karno lantas menyatakan Indonesia keluar dari KOI dan menggagas dibentuknya olimpiade tandingan dengan nama GANEFO (Games of the New Emerging Forces).

Ketegasan seperti itu kini cuma sejarah belaka.
Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/zaman-soekarno-keras-pada-israel-kini-politisi-malah-sowan.html

Dengan sandal butut dan kaos lusuh, Soekarno tinggalkan istana

Dengan sandal butut dan kaos lusuh, Soekarno tinggalkan istana


Dengan sandal butut dan kaos lusuh, Soekarno tinggalkan istana
Soekarno. ©2012 Merdeka.com/dok

Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mencabut kekuasaan Presiden Soekarno tanggal 12 Maret 1967. Sebelumnya sejak Surat Perintah 11 Maret 1966, kekuasaan memang telah beralih pada Jenderal Soeharto.

Soekarno menolak anjuran loyalisnya untuk melawan Jenderal Soeharto. Dia memilih mengalah. Maka pelan-pelan Soekarno yang masih tinggal di Istana Negara dijadikan tahanan rumah. Pemerintahan Orde Baru mulai memerintahkan menurunkan gambar-gambar Soekarno dari kantor-kantor dan sekolah.

16 Agustus 1967, Soekarno meninggalkan Istana. Tak ada raungan sirine atau pengawalan laiknya seorang pejabat negara. Tidak ada lagi bendera kepresidenan yang 20 tahun menemani Soekarno.

"Bung Karno keluar hanya memakai piyama warna krem serta kaos oblong cap cabe. Baju piyamanya disampirkan di pundak, memakai sandal cap bata yang sudah usang. Tangan kanannya memegang koran yang digulung agak besar, isinya bendera sang saka merah putih," kata Perwira Detasemen Kawal Pribadi Sogol Djauhari Abdul Muchid.

Hal itu diceritakan dalam buku 'Hari-hari Terakhir Soekarno' yang ditulis Peter Kasenda dan diterbitkan Komunitas Bambu.

Tak ada pengawalan layaknya kepala negara, hanya seorang pria tua berusia 65 tahun terkantuk-kantuk dalam mobil tua menyusuri jalanan Jakarta yang macet.

Soekarno sempat tinggal di paviliun Istana Bogor. Gerakannya masih relatif bebas. Maka tentara kemudian melarang Soekarno kembali ke Jakarta. Tentu hal ini membuat Soekarno menderita. Dia mulai sakit-sakitan.

Akhirnya Agustus 1967, Soeharto juga mengeluarkan ultimatum bagi anak-anak Soekarno. Mereka disuruh meninggalkan Istana Negara. Terpaksa mereka tinggal mengontrak, sementara sebagian tinggal bersama Fatmawati di Kebayoran Baru.

Desember 1967, giliran Soekarno dan Hartini yang diperintah meninggalkan paviliun Istana Bogor. Kondisi kesehatan Soekarno makin buruk. Dia kemudian pindah ke Batutulis, sebelum akhirnya menjadi tahanan rumah di Wisma Yasoo, Jakarta.

Di Wisma Yasoo inilah Soekarno diperlakukan sebagai pesakitan. Kondisinya terus memburuk. Tanggal 21 Juni 1970, Soekarno menghembuskan nafas terakhir. Berakhirlah hidup Proklamator, pejuang dan presiden pertama Indonesia ini. Ironisnya, dalam status tahanan rumah. Dia ditahan oleh bangsanya sendiri.
Sumber : http://www.merdeka.com/peristiwa/dengan-sandal-butut-dan-kaos-lusuh-soekarno-tinggalkan-istana.html